Irosadys Blog

Budayakan NgeBlog Dan Berbagi Informasi

Seberapa Pandai Kita Bersyukur ?

Sobat, kali ini saya akan berbagi cerita kisah nyata di zaman Harun Al Rosyid yang saya dengar dari khutbah jum’at di masjid SIER Surabaya kemarin. Semoga kisah ini juga bisa meng-ilhami sobat-sobat untuk bisa lebih pandai mensyukuri nikmat Allah yang telah kita terima selama ini.
Sebelum kisah Harun Al Rosyid ini di mulai, khotib jum’at menyindir soal kondisi negara kita yang akhir-akhir ini ramai di beritakan di media massa penuh dengan korupsi, penuh dengan orang-orang serakah yang berusaha memperkaya diri tanpa mempertimbangkan halal-haram, entah itu soal bank century, gayus, dan yang lainnya yang membuat prihatin orang-orang yang masih punya naluri. Apa sebenarnya arti kekayaan ini ? Sampai orang menumpuknya dengan bermacam cara tanpa peduli aturan, norma dan kaidah agama.

Harun Al Rosyid adalah seorang raja, sebagai seorang raja tentu dia mempunyai kekuasaan, kekayaan dan pengaruh yang besar pada saat itu. Tapi raja juga manusia yang punya hati, perasaan dan fikiran. Kekuasaan, kekayaan dan pengaruh yang dia miliki tidak menjamin ketentraman dan ketenangan hatinya. Suatu hari Harun Al Rosyid memangggil penasehat pribadinya untuk meminta nasehat. 

Harun           : Penasehatku, beri aku nasehat yang bisa mengobati kegelisahanku selama ini !

Penasehat   : Tuan, apa yang membuat hati tuan gelisah. Bukankah kedudukan, kekuasaan, kekayaan semuanya telah tuan miliki ? Apa yang tuan inginkan semua bisa tuan dapatkan.

Harun           : Oleh karena semua itulah hatiku menjadi gelisah dan tidak tenang.

Penasehat   : Tuan, sebelum saya jawab pertanyaan tuan. Bolehkah saya bertanya ?

Harun           : Silahkan, apa yang ingin kamu tanyakan ?

Penasehat   : Seandainya tuan berjalan di padang pasir dan tuan kehabisan bekal sebelum sampai tujuan, lalu tuan merasa kehausan dan di situ tidak air untuk di minum kira-kira apa yang akan terjadi pada diri tuan ?

Harun           : Aku akan mati kehausan.

Penasehat   : Lalu ada seseorang yang lewat berpapasan dengan tuan dengan menawarkan segelas air kepada tuan untuk di tukar dengan istana dan kedudukan raja yang tuan miliki, apakah tuan akan memberikannya ?

Harun           : Tentu akan aku berikan, dari pada aku mati kehausan.

Penasehat   : Setelah tuan mendapat air minum dan segar kembali lalu tuan melanjutkan perjalanan, belum sampai kepada tujuan tuan merasa kehausan kembali dan di situ tidak air air untuk di minum lalu datang seseorang menawarkan segelas air untuk di tukar dengan istana dan kedudukan raja yang tuan miliki, apakah tuan akan memberikannya ?

Harun           : Tentu penasehat, tentu akan aku berikan dari pada aku mati kehausan di tengah padang pasir.

Penasehat   : Tuan, memangnya ada berapa istana tuan ?

Harun           : Satu

Penasehat   : Tuan hanya memiliki satu istana tapi tuan sudah menukar dua istana untuk dua gelas air. Lalu istana yang satu istana siapa yang tuan tukarkan.

Harun           : ?????

Penasehat   : Memangnya tuan berapa kali jadi raja ?

Harun           : Satu

Penasehat   : Tuan hanya sekali jadi raja tapi tuan sudah dua kali menukarkan kedudukan raja dengan dua gelas air. Kedudukan raja yang mana yang tuan tukarkan satunya lagi ?

Harun           : ?????

Penasehat   : Tuan, maksud dari pertanyaan-pertanyaan saya tadi untuk membuka mata hati tuan. Kenapa hati tuan gelisah dan tidak tenang dengan kedudukan, kekayaan dan kekuasaan yang tuan miliki yang nilainya tidak lebih dari segelas air di saat kita kehausan.

Harun           : Kamu benar penasehatku.

Semoga dari kisah ini kita bisa mengambil hikmah dan lebih pandai mensyukuri nikmat yang telah di berikan oleh Allah kepada kita semua. Amien

13/02/2011 - Posted by | Cerita Sufi, Islam, Religi | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: